Thursday, August 15, 2013

Pengaruh Kebudayaan Hindu-Buddha

1. Pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha terhadap seni bangunan

Pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha
dalam bidang arsitektur atau seni bangunan
dapat kita lihat dengan jelas pada candi-candi.
Ada perbedaan fungsi antara candi dalam agama
Hindu dan candi dalam agama Buddha. Dalam
agama Hindu, candi difungsikan sebagai makam.
Adapun dalam agama Buddha, candi berfungsi
sebagai tempat pemujaan atau peribadatan.

Meski difungsikan sebagai makam, namun
tidak berarti bahwa mayat atau abu jenazah
dikuburkan dalam candi. Benda yang dikuburkan
atau dicandikan adalah macam-macam benda yang disebut pripih. Pripih ini dianggap
sebagai lambang zat jasmaniah yang rohnya sudah bersatu dengan dewa penitisnya. Pripih
ini diletakkan dalam peti batu di dasar bangunan, kemudian di atasnya dibuatkan patung
dewa sebagai perwujudan sang raja. Arca perwujudan raja itu umumnya adalah Syiwa atau
lambang Syiwa, yaitu lingga. Pada candi Buddha, tidak terdapat pripih dan arca perwujudan
raja. Abu jenazah raja ditanam di sekitar candi dalam bangunan stupa.

Bangunan candi terdiri atas tiga bagian, yaitu kaki, tubuh, dan atap.
  1. Kaki candi berbentuk persegi (bujur sangkar). Di tengah-tengah kaki candi inilah ditanam pripih.
  2. Tubuh candi terdiri atas sebuah bilik yang berisi arca perwujudan. Dinding luar sisi bilik diberi relung (ceruk) yang berisi arca. Dinding relung sisi selatan berisi arca Guru, relung utara berisi arca Durga, dan relung belakang berisi arca Ganesha. Relung-relung untuk candi yang besar biasanya diubah.
  3. Atap candi terdiri atas tiga tingkat. Bagian atasnya lebih kecil dan pada puncaknya terdapat lingga atau stupa. Bagian dalam atap (puncak bilik) ada sebuah rongga kecil yang dasarnya berupa batu segi empat dengan gambar teratai merah, melambangkan takhta dewa. Pada upacara pemujaan, jasad dari pripih dinaikkan rohnya dari rongga atau diturunkan ke dalam arca perwujudan. Hiduplah arca itu menjadi perwujudan almarhum sebagai dewa.
 Bangunan candi di Indonesia yang bercorak Hindu, antara lain, candi Prambanan, candi Sambisari, candi Ratu Boko, candi Gedongsongo, candi Sukuh, candi Dieng, candi Jago, candi Singasari, candi Kidal, candi Panataran, candi Surawana, dan gapura Bajang Ratu. Bangunan candi yang bercorak Buddha, antara lain, candi Borobudur, candi Mendut, candi Pawon, candi Kalasan, candi Sewu, candi Sari, dan candi Muara Takus.
Beberapa peninggalan bangunan lain yang menyerupai candi sebagai berikut.
  1. Patirtan atau pemandian, misalnya, patirtan di Jalatunda dan Belahan (lereng Gunung Penanggungan), di candi Tikus (Trowulan), dan di Gona Gajah (Gianyar, Bali).
  2. Candi Padas di Gunung Kawi, Tampaksiring. Di tempat ini terdapat sepuluh candi yang dipahatkan seperti relief pada tebing-tebing di Pakerisan.
  3. Gapura yang berbentuk candi dan memiliki pintu keluar masuk. Contoh candi semacam ini adalah candi Plumbangan, candi Bajang Ratu, dan candi Jedong.
  4.  Jenis gapura lainnya yang berbentuk seperti candi yang dibelah dua untuk jalan keluar masuk. Contoh candi semacam ini adalah candi Bentar dan candi Wringin Lawang.
2. Pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha terhadap seni rupa

Seni rupa Nusantara yang banyak dipengaruhi oleh
kebudayaan Hindu-Buddha dari India adalah seni pahat atau
ukir dan seni patung. Seni pahat atau ukir umumnya berupa
hiasan-hiasan dinding candi dengan tema suasana Gunung
Mahameru, tempat kediaman para dewa. Hiasan yang terdapat
pada ambang pintu atau relung adalah kepala kala yang
disebut Banaspati (raja hutan). Kala yang terdapat pada candi
di Jawa Tengah selalu dirangkai dengan makara, yaitu sejenis
buaya yang menghiasi bagian bawah kanan kiri pintu ataurelung.

Pola hiasan lainnya berupa daun-daunan yang dirangkai
dengan sulur-sulur melingkar menjadi sulur gelung. Pola ini
menghiasi bidang naik horizontal maupun vertikal. Ada juga
bentuk-bentuk hiasan berupa bunga teratai biru (utpala), merah
(padam), dan putih (kumala). Pola-pola teratai ini tidak
dibedakan berdasarkan warna, melainkan detail bentuknya yang berbeda-beda. Khususnya
pada dinding candi di Jawa Tengah, terdapat hiasan pohon kalpataru (semacam beringin)
yang diapit oleh dua ekor hewan atau sepasang kenari.

Beberapa candi memiliki relief yang melukiskan suatu cerita. Cerita tersebut diambil
dari kitab kesusastraan ataupun keagamaan. Gaya relief tiap-tiap daerah memiliki keunikan.
Relief di Jawa Timur bergaya mayang dengan objek-objeknya berbentuk gepeng (dua
dimensi). Adapun relief di Jawa Tengah bergaya naturalis dengan lekukan-lekukan yang
dalam sehingga memberi kesan tiga dimensi. Pada masa Kerajaan Majapahit, relief di Jawa
Timur meniru gaya Jawa Tengah dengan memberikan latar belakang pemandangan
sehingga tercipta kesan tiga dimensi.
Relief-relief yang penting sebagai berikut.
  1. Relief candi Borobudur menceritakan Kormanibhangga, menggambarkan perbuatan manusia serta hukum-hukumnya sesuai dengan Gandawyuha (Sudhana mencari ilmu).
  2. Relief candi Roro Jonggrang menceritakan kisah Ramayana dan Kresnayana. Seni patung yang berkembang umumnya berupa patung atau arca raja pada sebuah candi. Raja yang sudah meninggal dimuliakan dalam wujud arca dewa. Contoh seni patung hasil kebudayaan Hindu-Buddha kini dapat kita saksikan di candi Prambanan (patung Roro Jonggrang) dan di Museum Mojokerto (Jawa Timur). Salah satu koleksi museum tersebut yang terindah adalah patung Airlangga (perwujudan Wisnu) dan patung Ken Dedes.
3. Pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha terhadap seni sastra

Wiracarita atau kisah kepahlawanan India yang memasyarakat di Indonesia dan
memengaruhi kehidupan serta perkembangan sosial budaya adalah cerita Mahabharata
dan Ramayana. Kitab Mahabharata terdiri atas delapan belas jilid (parwa). Setiap jilid
terbagi lagi menjadi beberapa bagian (juga disebut parwa) yang digubah dalam bentuk
syair. Cerita pokoknya meliputi 24.000 seloka. Sebagian besar isi kitab ini menceritakan
peperangan sengit selama delapan hari antara Pandawa dan Kurawa. Kata Mahabharatayudha
sendiri berarti peperangan besar antarkeluarga Bharata. Menurut cerita, kitab ini
dihimpun oleh Wiyasa Dwipayana. Akan tetapi, para ahli sejarah beranggapan bahwa
lebih masuk akal jika kitab itu merupakan kumpulan berbagai cerita brahmana antara
tahun 400 SM sampai 400 M.

Kitab Ramayana dikarang oleh Walmiki. Kitab ini terdiri atas tujuh jilid (kanda) dan
digubah dalam bentuk syair sebanyak 24.000 seloka. Kitab ini berisi perjuangan Rama
dalam merebut kembali istrinya, Dewi Sinta (Sita), yang diculik oleh Rahwana. Dalam
perjuangannya, Rama yang selalu ditemani Laksmana (adiknya) itu mendapat bantuan
dari pasukan kera yang dipimpin oleh Sugriwa. Selain itu, Rama juga dibantu oleh Gunawan
Wibhisana, adik Rahwana yang diusir oleh kakaknya karena bermaksud membela
kebenaran (Rama). Perjuangan tersebut menimbulkan peperangan besar dan banyak
korban berjatuhan. Di akhir cerita, Rahwana beserta anak buahnya gugur dan Dewi Sinta
kembali kepada Rama.

Akulturasi di bidang sastra dapat dilihat pada adanya modifikasi cerita-cerita asli
India dengan unsur tokoh-tokoh Indonesia serta peristiwa-peristiwa yang seolah-olah
terjadi di Indonesia. Contohnya adalah penambahan tokoh punakawan (Semar, Bagong,
Gareng, Petruk) dalam kisah Mahabharata. Bahkan, dalam literatur-literatur keagamaan
Hindu-Buddha di Indonesia sulit kita temukan cerita asli seperti yang ada di negeri asalnya.
Pengaruh kebudayaan India yang dipertahankan dalam kesusastraan adalah gagasan,
konsep, dan pandangan-pandangannya.

4. Pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha terhadap sistem pemerintahan

Salah satu contoh nyata pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia adalah
perubahan sistem pemerintahan. Sebelum pengaruh Hindu-Buddha masuk ke Indonesia,
struktur sosial asli masyarakat Indonesia berbentuk suku-suku dengan pimpinannya
ditunjuk atas prinsip primus inter pares. Setelah pengaruh Hindu-Buddha masuk, sistem
pemerintahan ini berubah menjadi kerajaan. Kepemimpinan lalu diturunkan kepada
keturunan raja. Raja dan keluarganya kemudian membentuk kalangan yang disebut
bangsawan.

Dalam perkembangannya, ada dua corak kerajaan berdasarkan budaya Hindu-
Buddha. Kerajaan-kerajaan bercorak Hindu, antara lain, Kerajaan Kutai, Tarumanegara,
Mataram Hindu (Mataram Kuno), Kahuripan (Airlangga), dan Majapahit. Kerajaan
Majapahit dikenal sebagai kerajaan Hindu terbesar. Adapun kerajaan-kerajaan bercorak
Buddha, antara lain, Kerajaan Holing (Kalingga), Melayu, Sriwijaya, dan Mataram
Buddha. Kerajaan Sriwijaya adalah kerajaan Buddha terbesar di Indonesia.

5. Pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha terhadap sistem kepercayaan

Pada saat budaya Hindu-Buddha masuk ke Indonesia, masyarakat masih menganut
kepercayaan asli, yaitu animisme dan dinamisme. Akibat adanya proses akulturasi, agama
Hindu dan Buddha lalu diterima penduduk asli. Dibandingkan agama Hindu, agama
Buddha lebih mudah diterima oleh masyarakat kebanyakan sehingga dapat berkembang
pesat dan menyebar ke berbagai wilayah. Sebabnya adalah agama Buddha tidak mengenal
kasta, tidak membeda-bedakan manusia, dan menganggap semua manusia itu sama
derajatnya di hadapan Tuhan (tidak diskriminatif). Menurut agama Buddha, setiap
manusia dapat mencapai nirwana asalkan baik budi pekertinya dan berjasa terhadap
masyarakat.

6. Sistem perdagangan dan transportasi

Kekayaan bumi Nusantara telah dikenal luas sejak dahulu. Kemenyan, kayu cendana, dan
kapur barus dari Indonesia telah dikenal di Cina menyaingi bahan wangi-wangian lainnya
dari Asia Barat. Begitu pula berbagai jenis rempah-rempah, seperti lada dan
cengkih, serta hasil-hasil kerajinan dan berbagai jenis binatang khas yang unik. Awalnya, pedagangpedagang
dari India yang singgah di Indonesia membawa barang-barang tersebut ke Cina.

Seiring dengan perkembangan perdagangan
internasional, hubungan dagang antara Indonesia –
India – Cina pun berkembang . Wolters berpendapat
bahwa perkembangan ini akibat dari sikap terbuka
dan bersahabat dengan orang asing serta penghargaan
terhadap barang dagangan yang dibawa orang asing. Sikap ini pula yang memungkinkan
agama Hindu-Buddha dapat berkembang di Indonesia.

Dalam berbagai prasasti yang ditemukan, disebutkan bahwa pada abad ke-5 Masehi,
bangsa Indonesia telah mampu turut serta dalam perdagangan maritim internasional Asia.
Perkembangan ini dipicu pula oleh perkembangan teknologi transportasi pelayaran.
I-Tsing, musafir dan pendeta Buddha dari Cina yang mampir ke Indonesia pada abad
ke-7 dalam perjalanannya ke India dengan menumpang kapal milik Sriwijaya, mengatakan
bahwa pada awalnya bangsa Indonesia memang telah akrab dengan dunia pelayaran, meski
baru terbatas pada pulau-pulau yang berdekatan. Alat transportasi yang digunakan adalah
kapal cadik berukuran kecil. Bersamaan dengan munculnya kerajaan-kerajaan besar,
seperti Sriwijaya, Singasari, dan Majapahit, mulailah dikenal teknologi pembuatan kapalkapal
yang lebih besar dan pelayaran yang dilakukan dapat menjangkau jarak yang lebih
jauh. Bangsa Indonesia jadi dapat berperan lebih aktif dalam perdagangan internasional
dengan berlayar sendiri ke negara-negara yang biasanya berdagang dengan Indonesia. Hal
ini tergambar dalam relief candi Borobudur. Tiga jenis kapal yang digambarkan dalam
relief tersebut adalah perahu lesung, kapal besar tidak bercadik, dan kapal bercadik.

7. Sistem penguasaan tanah

Tanah dalam lingkungan sebuah kerajaan secara umum menjadi milik kerajaan.
Namun, pengolahan atau pemanfaatan diserahkan kepada rakyat yang hidup dalam
lingkup kerajaan tersebut. Hak pemanfaatan lahan ini disebut hak anggaduh, artinya rakyat
hanya dipinjami tanah oleh raja. Tanah garapan itu dapat dipindahtangankan kepada
rakyat lainnya dalam lingkup kerajaan yang sama dan hak anggaduh tersebut dapat
digunakan secara turun temurun. Akan tetapi, jika sewaktu-waktu raja memintanya
kembali, misalnya, untuk keperluan pendirian candi atau bangunan milik kerajaan atau
suatu kepentingan umum lainnya, rakyat tidak dapat menolak.

8. Sistem pajak

Pengembangan dan jaminan kelangsungan suatu kerajaan tentu memerlukan biaya.
Biaya ini diambil dari hasil perdagangan, pertanian, dan pungutan pajak kepada rakyat.
Pajak dipungut oleh pejabat di tingkat daerah dari desa-desa yang ada di wilayahnya.
Setiap habis panen, pajak tersebut wajib diserahkan pada kerajaan. Di tingkat pusat, ada
petugas khusus yang bertugas mencatat luas tanah di wilayah kerajaan untuk dijadikan
dasar perhitungan penetapan pajak yang wajib dipungut. Rakyat diwajibkan untuk
membayar pajak tepat waktu.

9. Tenaga kerja

Tenaga kerja berasal dari rakyat. Dalam hal ini, rakyat merupakan abdinya yang
harus menaati semua perintahnya. Hal ini dikarenakan pada masa itu, kekuasaan raja
merupakan kekuasaan tertinggi dan mutlak sebab raja dianggap sebagai penjelmaan dewa
di bumi dan memerintah atas nama dewa. Oleh karena itu, rakyat dituntut untuk bersikap
setia kepada raja.

Cakrawala Sejarah 2 : untuk SMA / MA Kelas XI ( Program IPS ) /
penulis, Wardaya ; editor, Sugiharti ; illustrator, Mulyanto .— Jakarta :
Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2009.

0 comments:

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Sponsor

Sponsor

Sponsor

Copyright © 2012. anaajat online - All Rights Reserved B-Seo Versi 4 by Bamz