Monday, August 27, 2012

Modul PLPG Sosiologi Bagian 8


BAB VIII
LEMBAGA SOSIAL
A.    Pendahuluan

1. Kompetensi Dasar
Setelah mempelajari pokok bahasan ini diharapkan peserta dapat memahami konsep lembaga sosial, pertumbuhan lembaga sosial dan keanekaragamannya dalam kehidupan sosial.

2. Kompetensi Khusus
Setelah mempelajari pokok bahasan ini diharapkan peserta dapat:
q Menjelaskan konsep dan pengertian lembaga sosial.
q Menguraikan pertumbuhan lembaga sosial
q Menguraikan perbedaan pranata dengan asosiasi
q Memahami dan menjelaskan keanekaragaman fungsi lembaga sosial
BAB I
SEJARAH PERKEMBANGAN SOSIOLOGI
A.     Pendahuluan
1.      Standar  Kompetensi
Setelah mempelajari pokok bahasan ini peserta PLPG diharapkan mampu mengidentifikasi sejarah perkembangan sosiologi, dan perspektif utama teori-teori sosiologi.
2.      Kompetensi Dasar
Setelah mempelajari pokok bahasan ini peserta PLPG diharapkan dapat memahami sejarah perkembangan sosiologi, batasan menurut tokoh, hubunga sosiologi dengan ilmu-ilmu social lainnya serta kegunaan atau peranan sosiologi dalam memecahkan masalah dalam kehidupan sosial.

B.     Penyajian Materi
1.        Latar Belakang Munculnya Sosiologi
Menurut Berger dan Berger, pemikiran sosiologi berkembang manakala masyarakat menghadapi ancaman terhadap hal yang selama ini dianggap sebagai hal yang memang sudah seharusnya demikian, benar, nyata- menghadapi apa yang oleh Berger dan Berger disebut threats to the taken-for-granted world. Manakala hal yang selama ini menjadi pegangan manusia mengalami krisis, maka mulailah orang melakukan renungan sosiologi.
L.Laeyendecker, mengaitkan kelahiran sosiologi dengan serangkaian perubahan berjangka panjang yang melanda Eropa Barat di Abad Pertengahan. Proses perubahan jangka panjang yang diidentifikasi Laeyendecker ialah (1) tumbuhnya kapitalisme pada akhir abad ke-15, (2) perubahan di bidang sosial dan politik, (3) perubahan berkenaan dengan reformasi Martin Luther, (4) meningkatnya individualism, (5) lahirnya ilmu pengetahuan modern, (6) berkembangnya kepercayaan kepada diri sendiri, (7) revolusi industri serta (8) revolusi Perancis yang terjadi pada abad ke-18.
2. Sifat hakekat dan cirri-ciri utama sosiologi
Apabila sosiologi ditelaah dari sudut sifat hakekatnya, maka akan dijumpai beberapa petunjuk yang akan dapat membantu untuk menetapkan ilmu pengetahuan macam apakah sosiologi itu. Adapun sifat-sifat hakekatnya adalah:
a.       Sosiologi adalah suatu ilmu social dan bukan merupakan ilmu pengetahuan alam ataupun ilmu pengetahuan kerohanian.
b.      Sosiologi  merupakan disiplin ilmu yang kategoris bukan disiplin ilmu yang normatif
c.       Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan murni (pure science) dan bukan merupakan  ilmu pengetahuan terapan atau terpakai (applied science)
d.      Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang abstrak dan bukan merupakan ilmu pengetahuan yang konkrit
e.       Sosiologi bertujuan untuk menghasilkan pengertian dan pola-pola umum.
f.       Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang empiris dan rasional
g.      Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang umum dan bukan merupakan ilmu pengetahuan yang khusus.
           Sebagai ilmu sosial yang objeknya masyarakat, sosiologi mempunyai cirri-ciri utama sebagai berikut:
a.        Sosiologi bersifat empiris, yang berarti bahwa ilmu pengetahuan tersebut didasarkan pada observasi terhadap kenyataan dan akal sehat serta hasilnya tidak bersifat spekulatif.
b.      Sosiologi bersifat teoritis, yaitu ilmu pengetahuan tersebut selalu berusaha untuk menyusun abstraksi dari hasil-hasil observasi. Abstraksi tersebut merupakan kerangka dari pada unsur-unsur yang tersusun secara logis dan bertujuan untuk menjelaskan hubungan-hubungan sebab akibat, sehingga menjadi teori.
c.       Sosiologi bersifat kumulatif, yang berarti bahwa teori-teori sosiologi dibentuk atas dasar teori-teori yang sudah ada dalam arti memperbaiki, memperluas serta memperhalus teori-teori yang lama.
d.      Sosiologi bersifat non-ethis, yakni yang dipersoalkan bukanlah bentuk baiknya fakta tertentu, akan tetapi tujuannya adalah untuk menjelaskan fakta tersebut secara analitis.

3.       Konsep Dan Perspektif Sosiologi
Perspektif Fungsional:
Auguste Comte (1798-1857)
Tokoh yang sering dianggap sebagai “Bapak Sosiologi” adalah Auguste Comte, seorang ahli filsafat dari Perancis. Comte mencetuskan pertama kali istilah sosiologi dalam bukunya : Course de PhilosophiePositive. Dalam buku tersebut Comte mengemukakan pandangannya mengenai “hukum kemajuan manusia” yang memiliki tiga tahap yakni: tahap teologi, tahap metafisika dan tahap positif. Pada tahap pertama manusia mencoba menjelaskan gejala di sekitarnya dengan mengacu pada hal yang bersifat adikodrati; pada tahap kedua manusia mengacu pada kekuatan metafisik atau abstrak; pada tahap terakhir manusia menjelaskan gejala-gejala alam dengan mengacu pada deskripsi ilmiah-didasarkan pada hulkum ilmiah.  
Emile Durkheim (1858-1917)                                   
            Durkheim merupakan seorang ilmuwan yang sangat produktif. Ia banyak menulis dalam majalah yang diterbitkannya, L’Ann’ee Sociologuque (1896). Buku The Division of Labor in Society (1968)  merupakan suatu upaya Durkheim untuk mengkaji suatu gejala yang sedang melanda masyarakat: pembagian kerja. Durkheim mengemukakan bahwa di bidang perekonomian seperti di bidang industry modern terjadi penggunaan mesin serta konsentrasi modal dan tenaga kerja yang mengakibatkan pembagian kerja dalam bentuk spesialisasi dan pemisahan okupasi yang semakin rinci. 
            Durkheim melihat bahwa setiap masyarakat manusia memerlukan solidaritas. Ia membedakan antara tipe utama solidaritas: solidaritas mekanik dan solidaritas organik. Solidaritas mekanik merupakan suatu tipe solidaritas yang didasarkan atas persamaan.  Buku Suicide  (1968) merupakan upaya Durkheim untuk menerapkan metode yang telah dirintisnya dalam Rules of Sociological Method untuk menjelaskan factor social yang menjadi penyebab terjadinya suatu fakta social yang konkret, yaitu angka bunuh diri.
Perspektif Konflik
Karl Marx (1818-1883)
Karl Marx lahir di Trier Jerman pada tahun 1818, ia lebih dikenal sebagai seorang tokoh sejarah ekonomi, ahli filsafat dan aktivis yang mengembangkan teori mengenai sosialisme yang kemudian hari dikenal dengan nama Marxisme dari pada seorang perintis sosiologi. Meskipun Marx bukan ahli sosiologi namun tulisannya mengandung sosiologi. Dalam buku “The Communist Manifesto” yang ditulisnya bersama Friedrich Engels. Marx berpandangan bahwa sejarah masyarakat manusia merupakan sejarah perjuangan kelas. Menurut Marx perkembangan pembagian kerja dalam kapitalisme menumbuhkan dua kelas yang berbeda; kelas yang terdiri atas orang yang menguasai alat produksi, yang dinamakan kaum bourgeoisie, yang mengeksploitasi kelas yang terdiri atas orang yang tidak memiliki alat produksi, yaitu kaum proletar.
Lewis Coser
            Teori konflik Lewis Coser sering disebut teori fungsionalisme konflik, karena menekankan pada fungsi konflik bagi sistem social atau masyarakat.
Beberapa fungsi konflik menurut Coser:
a.       Konflik dapat memperkuat soloidaritas kelompok yang agak longgar. Dalam masyarakat yang terancam disintegrasinya, konflik dengan masyarakat lain bisa menjadi kekuatan yang mempersatukan.
b.      Konflik juga bisa menyebabkan anggota-anggota masyarakat yang terisolasi menjadi berperan aktif.
c.       Konflik juga bisa berfungsi untuk komunikasi.

Perspektif Interaksionisme Simbolik
Herbert Mead
Mead mengutip pendapat Leslie White, menyatakan bahwa symbol merupakan sesuatu yang nilai atau maknanya diberikan kepadanya oleh mereka yang mempergunakannya. Misalnya makna suatu warna tergantung pada mereka yang menggunakannya. Warna merah misalnya, dapat berarti berani, dapat berarti komunis, dapat pula berarti tempat pelacuran. Warna putih dapat berarti suci, dapat berarti berkabung dan dapat berarti menyerah. Kesucian hewan tertentu (misalnya sapi di India), orang tertentu (orang suci), benda tertentu (misalnya patung) dan sebagainya.
4.        Fungsi Sosiologi Dalam Masyarakat dan Lingkungan
Sosiologi adalah suatu kajian tentang masyarakat dan hubungannya dengan lingkungan di mana masyarakat tersebut bertempat tinggal. Kajian tersebut memberikan pengetahuan bagi siapa saja yang mempelajarinya. Pengetahuan sosiologi memberi manfaat dan dapat diaplikasikan (diterapkan) dalam kehidupan sehari-hari untuk menunjang keberhasilan seseorang dalam lingkungan masyarakatnya.
Menurut Horton dan Hunt (1993), dewasa ini beberapa profesi yang umumnya diisi oleh para sosiolog adalah:
a.       li riset, baik itu riset ilmiah untuk kepentingan pengembangan keilmuan atau riset yang diperlukan sektor industri;
b.      Sebagai konsultan kebijaksanaan, khususnya ikut membantu untuk memperkirakan pengaruh dari kebijakan social tertentu;
c.       Sebagai teknisi atau yang popular disebut sosiolog klinis, yakni ikut terlibat di dalam kegiatan perencanaan dan pelaksanaan program kegiatan masyarakat;
d.      Sebagai guru atau pendidik yang telibat dalam kegiatan belajar- mengajar; dan
e.       Sebagai pekerja sosial (social worker).
Dunia jurnalistik misalnya, adalah salah satu bidang yang banyak diminati dan mengangkat reputasi para sosiolog karena laporan maupun tulisannya yang “menggigit”. Di jajaran birokrasi, para sosiolog acapkali juga berpeluang menonjol kariernya karena kelebihannya dalam wawasan dan visinya atas nasib rakyat – terutama rakyat kecil yang rentan dan miskin. Di berbagai perusahaan atau sektor industri yang memiliki pusat penelitian dan pengembangan (litbang), sumbangan para sosiolog juga akan sangat dibutuhkan karena salah satu kelebihan sosiolog adalah kekuatannya di bidang penelitian.
Beberapa phenomena social yang dapat dikaji oleh sosiologi, antara lain:
Meningkatnya kemacetan lalu lintas
            Pada 10 tahun terakhir, arus lalu lintas terutama di wilayah perkotaan terasa kian meningkat. Hal ini terjadi karena lonjakan pertumbuhan ekonomi kelompok masyarakat tertentu yang mengakibatkan daya beli masyarakat terhadapkendaraan meningkat. Di satu sisi fenomena ini memang menguntungkan secara ekonomis  karena dapat menambah kinerja bagi mereka yang mempunyai usaha bisnis yang memerlukan dukungan transportasi. Tetapi di sisi lain, daya tampung badan jalan pada umumnya tidak lagi sebanding dengan arus lalu lintas para pengguna jalan, sehingga terjadinya kemacetan.
Meningkatnya pedagang kaki lima
               Berdasarkan pengamatan, jumlah pedagang kaki lima di beberapa kota di Indonesia melonjak setidaknya dua kali lipat dari masa-masa sebalumnya. Ini berarti telah terjadi alih profesi dari karyawan pabrik atau karyawan perusahaan menjadi pedagang kaki lima karena adanya PHK. Untuk memperbaiki kondisi ini, memang diperlukan perhatian dari berbagai pihak agar keberadaan pedgang kaki lima tidak sampai menimbulkan menimbulkan masalah terutama dalam hal kebersihan dan keteraturan. Pemerintah harus tanggap dan bijaksana dalam menyikapi persoalan tersebut tanpa merugikan baik terhadap pedadang kaki lima maupun pemerintah.
Meningkatnya rumah liar dan pemukiman kumuh
           Pada kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Medan, Surabaya dan sebagainya, telah terjasi fenomena sosial yang cukup memprihatinkan yaitu munculnya rumah-rumah liar yang tidak memenuhi standar hukum,  standar estetika dan standar kesehatan. Secara sosiologis ini merupakan suatu perkembangan masyarakat yang cukup menyedihkan. Di satu sisi mereka harus ditolong karena memerlukan uluran tangan berupa tempat tinggal yang layak, tetapi di sisi lain mereka tidak mampu mengikuti persyaratan untuk mempunyai sebidang tanah guna mendirikan bangunan tempat tinggal yang layak sebagaimana pemukiman pada umumnya.
Meningkatnya Pengangguran
            Apabila diperhatikan pertumbuhan penduduk Indonesia setiap tahun berkisar antara 1,5 % hingga 1,8 % pertahun. Oleh sebab itu diperkirakan setiap tahun penduduk Indonesia bertambah sekitar 3 juta jiwa lebih, dan apabila tidak diikuti dengan pertumbuhan lapangan pekerjaan maka akan semakin meningkat jumlah pengangguran. Pada bagian lain, resesi ekonomi yang telah mengakibatkan beberapa perusahaan kecil dan menengah gulung tikar sehingga harus melakukan PHK yang akan menambah semakin panjangnya deretan pengangguran dalam masyarakat.
C. Penutup
1. .Rangkuman
Tokoh yang sering dianggap sebagai “Bapak Sosiologi” adalah Auguste Comte, seorang ahli filsafat dari Perancis. Comte mencetuskan pertama kali istilah sosiologi dalam bukunya : Course de PhilosophiePositive.
Secara umum sosiologi memiliki cirri-ciri utama yaitu: bersifat empiris, teoritis, kumulatih dan non etis.  Untuk mengkaji masyarakat didalam sosiologi dapat digunakan beberapa pendekatan antara lain pendekatan fungsional, pendekatan konflik dan pendekatan interaksionisme simbolik.
2.    Latihan/Tugas
1.      Jelaskan latar belakang lahirnya sosiologi
2.      Coba anda buat intisari pokok-pokok pikiran dari beberapa tokoh sosiologi

3.    Tes Formatif
1.      Yang dikenal sebagai bapak sosiologi adalah ……
A.    Emile Durkheim                                        C. Auguste Comte
B.     Saint Simont                                             D. MaxWeber
2.      Sosiologi dibentuk atas dasar teori-teori yang sudah ada dalam arti memperbaiki, memperluas serta memperhalus teori-teori yang lama. Hal itu berarti bahwa sosiologi bersifat …..
A.    Empiris                                                      C. Non-etis
B.     Kumulatif                                                  D Normatif
3.      Menurut Peter L.Berger, peristiwa yang melatarbelakangi munculnya kajian sosiologi adalah ……
A.    Perubahan bidang sosial politik di Eropa
B.     Revolusi industry dan munculnya kapitalisme
C.     Meningkatnya faham individualism
D.    Disintegrasi dalam agama Kristen
4.      Sosiologi lahir dari lontaran kekhawatiran seorang ahli filsafat Perancis yang bernama
A.    Herbert Spencer                                        C. Thomas Hobbes
B.     Aguste Comte                                           D. max Weber
5.      Sosiologi didasarkan pada hasil observasi, tidak spekulatif dan menggunakan akal sehat. Hal ini menunjukkan bahwa sosiologi bersifat …….
A.    Empiris                                                      C. Non Etis
B.     Teoritis                                                      D. Praktis

4.        Penyelesaian Soal Test Formatif

1.      C              2. B           3. D            4. B           5. A                                   
                             



BAB II
NILAI DAN NORMA
A.     Pendahuluan
1.      Standar Kompetensi
Setelah mempelajari pokok bahasan ini peserta PLPG dapat menganalisis nilai dan norma dalam membentuk keteraturan hidup masyarakat.
2.      Kompetensi Dasar
Setelah mempelajari pokok bahasan ini peserta PLPG dapat mendeskripsikan nilai dan norma yang berlaku dalam bentuk keteraturan hidup masyarakat.

B.       Penyajian Materi

1.        Nilai Sosial         
            Menurut Robert M.Z.Lawang, nilai adalah gambaran mengenai apa yang diinginkan, yang pantas, yang berharga dan yang mempengaruhi perilaku orang yang memiliki nilai.
Terbentuknya norma sosial pada mulanya timbul setelah kehidupan anggota masyarakat merasakan manfaat dari pola-pola yang pada saat itu diterapkannya. Anggota masyarakat senantiasa belajar dari manfaat dan kerugian dari pola-pola perilaku tersebut, seperti mengambil barang milik orang lain baik secara sembunyi maupun secara paksa untuk dimiliki atau dimanfaatkan adalah tindakan yang merugikan pihak yang memiliki barang.
Ciri-ciri dan Macam-Macam Nilai Sosial
Menurut Andrain, nilai-nilai itu memiliki enam cirri atau karakteristik, yaitu:
a.       Umum dan abstrak
Nilai dapat dikatakan umum sebab tidak akan ada masyarakat tanpa pedoman umum tentang sesuatu yang dianggap baik, patut dan layak, pantas dan sekaligus sesuatu yang menjadi larangan atau tabu bagi kehidupan masing-masing kelompok. Nilai bersifat abstrak, artinya nilai tidak dapat dilihat berupa benda secara fisik yang dapat dilihat dengan mata, diraba atau difoto.
b.      Konseptual
Nilai-nilai  itu hanya diketahui dari ucapan-ucapan, tulisan dan tingkah laku seseorang atau sekelompok orang, misalnya untuk mengetahui cita-cita seseorang maka orang harus menelusuri tulisan-tulisan beliau.
c.       Mengandung kualitas moral.
Nilia-nilai selalu berupa petunjuk tentang sikap dan perilaku yang sebaiknya atau yang seharusnya dilakukan.
d.      Tidak selamanya realistic.
Nilai itu tidak akan selalu dapat direalisasikan secara penuh didalam realitas sosial.
e.       Dalam situasi kehidupan masyarakat yang nyata, nilai-nilai itu akan bersifat campuran. Artinya, tidak ada masyarakat yang hanya menghayati satu nilai saja secara mutlak.
f.       Cenderung bersifat stabil, sukar berubah karena nilai-nilai yang telah dihayati telah melembaga atau mendarah daging dalam masyarakat.
 Notonegoro membedakan nilai menjadi tiga macam, yaitu:
a.       Nilai material, yaitu meliputi berbagai konsepsi tentang segala sesuatu yang berguna bagi jasmani manusia. Misalnya tipe rumah, corak perhiasan, pakaian, mobil dan lain-lain.
b.      Nilai vital, yaitu meliputi berbagai konsepsi yang berkaitan dengan segala sesuatu yang berguna bagi manusia dalam melaksanakan berbagai aktivitas. Misalnya pasir akan bernilai karena digunakan untuk membuat konstruksi bangunan.
c.       Nilai kerohanian, yakni meliputi berbagai konsepsi yang berkaitan dengan segala susuatu yang berhubungan dengan kebutuhan rohani manusia, seperti:
1)      Nilai kebenaran, yang bersumber pada rasio (akal manusia)
2)      Nilai keindahan, yang bersumber pada unsur perasaan
3)      Nilai moral, yang bersumber pada unsur kehendak
4)      Nilai keagamaan, yang bersumber pada kitab suci (wahyu Tuhan).

Fungsi Nilai Sosial                                                       
Nilai sosial memiliki fungsi bagi kehidupan masyarakat, diantaranya:
a.   Faktor pendorong cita-cita atau harapan bagi kehidupan sosial.
b. Petunjuk arah seperti cara berfikir, berperasaan, bertindak dan panduan dalam menimbang penilaian masyarakat.
c. Alat perekat solidaritas social di dalam kehidupan kelompok.
d. Benteng perlindungan atau penjaga stabilitas budaya kelompok atau masyarakat.

2.    Norma Sosial
Norma social adalah aturan yang dijadikan sebagai patokan bagi anggota masyarakat dalam bertingkah laku. Dilihat dari kekuatan mengikatnya dan sanksinya, terdapat beberapa jenis norma dalam masyarakat, yaitu:
a.       Cara (usage), merupakan norma yang menunjukkepada satu bentuk perbuatan yang mengatur hubungan social antar individu, dengan sanksi yang ringan terhadap pelanggarnya. Misalnya, cara memegang gelas ketika minum.
b.      Kebiasaan (folkways), merupakan cara-cara bertindak yang digemari oleh masyarakat sehingga dilakukan berulang-ulang. Folkways mempunyai kekuatan mengikat yang lebih besar dari pada usage. Misalnya, mengucapkan salam ketika bertemu, membuang sampah pada tempatnya.
c.       Tata Kelakuan (mores), merupakan norma yang bersumber pada filsafat, ajaran agama atau ideology yang dianut oleh masyarakat. Pelanggarnya disebut penjahat. Misalnya, larangan berjudi, minum minuman keras menggunakan narkotika.
d.      Adat Istiadat (customs), merupakan norma yang tidak terttulis, namun sangat kuat mengikat sehingga anggota masyarakat yang melanggar akan menderita karena sanksi keras secara tidak langsung dikenakan. Misalnya, pada masyarakat yang melarang terjadinya kawin sesuku mengakibatkan pemberian sanksi pengucilan bahkan dikeluarkan dari kelompok masyarakatnya.
e.       Hukum (Law), merupakan norma yang bersifat formal dan berupa aturan tertulis. Sanksi terhadap pelanggar sifatnya paling tegas apabila dibandingkan dengan norma-norma social lainnya.
Ciri-ciri Norma Sosial:
a.       Umumnya tidak tertulis
b.      Hasil kesepakatan bersama
c.       Ditaati bersama
d.      Bagi pelanggar diberi sanksi
e.       Mengalami perubahan

C.      Penutup
1.        Rangkuman
Menurut Horton dan Hunt, nilai adalah gagasan tentang apakah pengalaman itu berarti atau tidak. Notonegoro membedakan nilai menjadi tiga macam, yaitu:1).Nilai material, yaitu meliputi berbagai konsepsi tentang segala sesuatu yang berguna bagi jasmani manusia. Misalnya tipe rumah, corak perhiasan, pakaian, mobil dan lain-lain. 2) Nilai vital, yaitu meliputi berbagai konsepsi yang berkaitan dengan segala sesuatu yang berguna bagi manusia dalam melaksanakan berbagai aktivitas. Misalnya pasir akan bernilai karena digunakan untuk membuat konstruksi bangunan. 3)Nilai kerohanian, yakni meliputi berbagai konsepsi yang berkaitan dengan segala susuatu yang berhubungan dengan kebutuhan rohani manusia, seperti: a. Nilai kebenaran, yang bersumber pada rasio (akal manusia), b. Nilai keindahan, yang bersumber pada unsure perasaan, c. Nilai moral, yang bersumber pada unsur kehendak, d. Nilai keagamaan, yang bersumber pada kitab suci (wahyu Tuhan).
2. Latihan/Tugas
1. Jelaskan hubungan antara nilai dan norma?
2.Apa fungsi nilai bagi masyarakat dan mengapa nilai social antara satu masyarakat berbeda dengan masyarakat lainnya?
3. Tes Formatif
1. Yang menjadi tolak ukur atau standar dalam bertingkah laku dalam masyarakat adalah...
     A. Norma               B. Nilai                        C. Status                     D. Hukum   
2. Norma social yang paling tinggi tingkatannya dan paling keras sanksinya ttapi tidaktertulis adalah……..
    A. Hukum               B. Mores                     C. Customs                D. Folkways
3. Dalam kehidupan sebagian manusia ingin memiliki perhiasan untuk mempercantik diri, hal itu menunjukkan bahwa adanya nilai……
     A. Kebenaran         B. Keindakan              C. Material                  D. Moral
4. Cara bertindak yang digemari anggota masyarakat dan dilakukan secara berulang-ulang, dinamakan ……
     A. Tata kelakuan    B. Kelaziman              C. Adat Istiadat          D. Hukum
5. Norma social akan berubah apabila norma tersebut tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman, hal itu menunjukkan bahwa norma bersifat ……
     A. Statis                 B. Baku                       C. Dinamis                  D. Relatif
4. Penyelesaian Soal Tes Formatif
    1. B                        2. C                 3. B                4. B                5. C



















BAB III
INTERAKSI SOSIAL
A.     Pendahuluan
1.      Standar Kompetensi
Setelah mempelajari pokok bahasan ini peserta PLPG diharapkan mampu memahami perilaku keteratura hidup sesuai dengan nilai dan norma yang  berlaku dalam masyarakat.
2.      Kompetensi Dasar
Setelah mempelajari pokok bahasan ini peserta PLPG diharapkan dapat mendeskripsikan arti penting proses interaksi sosial sebagai dasar pengembangan pola keteraturan dan dinamika kehidupan sosial.

B. Penyajian Materi
1. Definisi Interaksi Sosial
Interaksi social adalah kunci dari semua kehidupan sosial, oleh klarena tanpa interaksi sosial tidak akan mungkin ada kehidupan bersama. Bertemunya orang perorangan secara badaniyah belaka tidak akan menghasilkan pergaulan hidup dalam suatu kelompok social.
Apabila masing-masing ditinjau lebih mendalam, maka faktor imitasi misalnya, mempunyai peran yang sangat penting dalam proses interaksi sosial.  Salah satu segi positifnya adalah bahwa imitasi dapat mendorong seseorang untuk mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku. Faktor sugesti berlangsung apabila seseorang memberi suatu pandangan atau suatu sikap yang berasal dari dirinya yang kemudian diterima oleh pihak lain.  Jadi proses ini sebenarnya hampir sama dengan imitasi akan tetapi titik tolaknya berbeda. Berlangsungnya sugesti dapat terjadi karena pihak yang menerima dilanda oleh emosinya, hal mana menghambat daya berfikirnya secara rasional. Identifikasi sebenarnya merupakan kecenderungan-kecenderungan atau keinginan-keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan pihak lain. Identifikasi ini sifatnya lebih mendalam dari pada imitasi, oleh karena kepribadian seseorang dapat terbentuk atas dasar proses ini. Proses simpati sebenarnya merupakan suatu proses di mana seseorang merasa tertarik pada pihaklain. Di dalam proses ini perasaan seseorang memegang peranan yang sangat penting ,  walaupun dorongan utama pada simpati adalah keinginan untuk memehami pihak lain dan untuk kerjasama dengannya.
2.    Syarat Terjadinya Interaksi Sosial
Suatu interaksi sosial tidak akan terjasi apabila tidak memenuhi dua syarat, yaitu:
a.       Adanya kontak sosia
b.      Adanya komunikasi
Kontak dapat berlangsung dalam tiga bentuk, yaitu: 1) Antara orang perorangan, misalnya apabila anak kecil mempelajari kebiasaan-kebiasaan dalam keluarganya,  2) Antara orang perorangan dengan suatu kelompok manusia atau sebaliknya, misalnya apabila seseorang merasakan bahwa tindakan-tindakannya berlawanan dengan norma-norma masyarakat atau atau apabila suatu partai politik memaksa anggota-anggotanya untuk menyesuaikan diri dengan ideology dan programnya, 3) Antara suatu kelompok manusia dengan kelompok manusia lainnya. Umpamanya, dua partai politik mengadakan kerjasama untuk mengalahkan partai politik yang ketiga di dalam pemilihan umum.
Komunikasi berasal dari bahasa latin Communicare yang berarti berhubungan. Jadi secara harfiah komunikasi berarti berhubungan atau bergaul dengan orang lain. Pada kontak sosial pengertiannya lebih ditekankan kepada orang atau kelompok yang berinteraksi, sedangkan komunikasi lebih ditekankan pada bagaimana pesannya itu diproses.
3.    Bentuk-bentuk Interaksi Sosial
Bentuk-bentuk  interaksi sosial antara lain: kerjasama (co-operation), persaingan (competition),  pertentangan atau pertikaian (conflict) dan perdamaian (Accomodation).
Kerjasama merupakan upaya yang dilakukan oleh beberapa individu atau kelompok secara bersama-sama untuk mencapai tujuan bersama. Persaingan adalah suatu perjuangan yang dilakukan perorangan atau kelompok social tertentu agar memperoleh kemenangan atau hasil secara kompetitif. Konflik timbul akibat adanya perbedaan paham dan kepentingan yang menyebabkan terciptanya gap baik antar individu maupun kelompok. Sedangkan akomodasi merupakan proses yang timbul sebagai upaya untuk meredakan pertentangan atau konflik yang pernah terjadi.
Akomodasi sebagai suatu proses, dapat mempunyai beberapa bentuk, yaitu:Toleransi, Mediasi, Kompromi, Konsiliasi, Arbitrasi, Segregasi, Koersi, Adjudikasi.
4.        Beberapa Pendekatan Dalam Mempelajari Interaksi Sosial.
Pendekatan Interaksionisme Simbolik
            Pendekatan ini bersumber pada pemikiran George Herbert Mead. Dari kata interaksionisme sudah nampak bahwa sasaran pendekatan ini ialah interaksi sosial; kata simbolik mengacu pada penggunaan symbol-simbol dalam interaksi.
            Apakah yang dimaksud dengan symbol? Simbol merupakan sesuatu yang nilai atau maknanya diberikan oleh mereka yang mempergunakannya. Menurut White, makna atau nilai tersebut tidak berasal dari atau ditentukan oleh sifat-sifat yang secara intrinsic terdapat di dalam bentuk fisiknya. Makna suatu symbol menurut White, hanya dapat ditangkap melalui cara nonsensoris; melalui cara simbolik. Sebagai contoh: makna suatu warna tergantung pada mereka yang menggunakannya. Warna merah misalnya, dapat berarti berani (“merah berarti berani, dan putih suci”), dapat berarti komunis (“kaum merah:), dapat berarti tempat pelacuran (“daerah lampu merah”). Warna putih dapat berarti suci, dapat berarti berkabung (pada orang Tionghoa), dapat pula berarti menyerah.
Pendekatan Definisi Situasi
            Konsep lain yang juga penting diperhatikan dalam bahasan mengenai interaksi sosial ialah konsep definisi situasi (the definition of the situation) dari W.I.Thomas. Berbeda dengan pandangan yang mengatakan bahwa interaksi manusia merupakan pemberian tanggapan (response) terhadap rangsangan (stimulus), maka menurut Thomas seseorang tidak segera membeir reaksi manakala ia mendapat rangsangan dari luar. Menurutnya, tindakan seseorang selalu didahului suatu tahap penilaian dan pertimbangan; rangsangan dari luar diseleksi melalui proses yang dinamakan definisi situasi.
Komunikasi Verbal
            Sesuatu yang penting dikemukakan Hall ialah bahwa dalam interaksi orang lain membaca prilaku kita—bukan kata kita. Ini penting untuk dikemukakan, karena dalam interaksi kita tidak hanya memperhatikan apa yang dikatakan orang lain tetapi juga apa yang dilakukannya. Hall dan Hall mengemukakan bahwa komunikasi nonverbal (nonverbal communication) atau bahasa tubuh (body language), yang menurutnya ada sebelum ada bahasa lisan dan merupakan bentuk komunikasi pertama yang dipelajari orang lain.
C. Penutup
1. Rangkuman
Interaksi social adalah kunci dari semua kehidupan social, oleh klarena tanpa interaksi social tidak akan mungkin ada kehidupan bersama. Berlangsungnya suatu proses interaksi sosial  didasarkan pada berbagai factor, antara lain: factor imitasi, sugesti, identifikasi dan simpati.. Faktor-faktor tersebut dapat bergerak sendiri-sendiri secara terpisah maupun dalam keadaan yang bergabung.
2.Latihan/Tugas
1.      Kita sering melihat seseorang berkomunikasi dengan binatang peliharaannya, apakah hubungan seperti itu termasuk kedalam interaksi sosial atau tidak, jelaskan !
2.      Mengapa warna merah dapat diberi arti, berani, cerah, jahat dan sebagainya. Apa yang menyebabkan perbedaan dalam memberikan arti terhadap warna tersebut ?

3.        Tes Formatif
1.      Tindakan seorang remaja yang cenderung meniru seorang tokoh yang diidolakannya, hal ini menunjukkan bahwa remaja tersebut melakukan interaksi sosial melalui ….
A.    Imitasi                                                       C. Sugesti
B.     Identifikasi                                                D. Simpati
2.      Dibawah ini adalah bentuk-bentuk interaksi social, kecuali …….
A.    Cooperation                                              C. Conflict
B.     Conciliation                                               D. Competition
3.      Proses penyelesaian konflik dimana salah satu pihak mengalah untuk menghindahi berlanjutnya pertikaian dinamakan ……
A.    Mediasi                                                     C. Konsiliasi
B.     Arbitrasi                                                    D. Toleransi
4.      Nilai yang maknanya diberikan kepadanya oleh mereka yang menggunakannya, disebut dengan …..
A.    Nilai                                                          C. Sikap
B.     Norma                                                       D. Simbol
5.      Yanti diam saja ketika disapa Robert, karena bagi Yanti sapaan tersebut dianggap tidak serius. Respon yang diberikan Yanti melalui ……
A.    Komunikasi Verbal                                   C. Situasi soaial
B.     Definisi situasi                                          D. Kondisi budaya

4.      Penyelesaian Tugas Formatif
1.      B                    2. B                 3. D                 4. D                 5. C                                        





















BAB IV
SOSIALISASI DAN PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN
A.      Pendahuluan
1.      Standard Kompetensi
Setelah mempelajari pokok bahasan ini, peserta PLPG diharapkan dapat menerapkan nilai dan norma dalam proses pengembangan kepribadian
2.      Setelah mempelajari pokok bahasan ini, peserta PLPG diharapkan dapat menjelaskan sosialisasi sebagai proses pembentukan kepribadian
                                                                             
B.     Penyajian Materi

1.        Definisi Sosialisasi

Sosialisasi merupakan proses belajar individu untuk mengenal dan menghayati normanorma dan nilai-nilai sosial, guna membentuk sikap untuk berperilaku sesuai dengan tuntutan masyarakatnya. Berger mendefinisikan sosialisasi sebagai;“a process by which a child learns to be a participant member of society”—proses melalui mana seorang anak belajar menjadi seorang anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat.
Beberapa Konsep Dalam Proses Sosialisasi
Looking Glass Self  
Menurut Cooley, konsep diri (self-concept) seseorang berkembang melalui interaksinya dengan orang lain. Diri yang berkembang melalui interaksi dengan orang lain ini oleh Cooley diberi nama looking- glass self. Melihat analogi antara pembentukan diri seseorang dengan perilaku orang yang sedang bercermin; kalau cermin memantulkan apa yang terdapat di depannya, maka menurut Cooley diri seseorang pun memantulkan apa yang dirasakannya sebagai tanggapan masyarakat terhadapnya.
Role Taking                                                                                                                        
            Role Taking atau pengambilan peran merupakan titik sentral dalam aliran interaksionisme dalam melihat proses sosialisasi, karena pengambilan peran mengacu pada bagaimana kita melihat situasi sosial dari sisi orang lain di mana diri kita akan memperoleh respons.
            George Herbert Mead menguraikan tahap pengembangan diri melalui beberapa tahap:
a.       Play stage, seorang anak kecil mulai belajar mengambil peran orang yang berada di sekitarnya. Misalnya, seorang anak dapat berpura-pura menjadi petani, dokter atau polisi tetapi tidak mengetahui mengapa petani mencangkul, mengapa dokter menyuntik pasien dan polisi menangkap pelaku kejahatan.
b.      Game stage, seorang anak tidak hanya telah mengetahui peran yang harus dijalankannya, tetapi telah pula mengetahui peran yang harus dijalankan oleh orang lain dengan siapa ia berinteraksi. Misalnya, seorang anak yang bermain sepak bola dan berperan sebagai penjaga gawang, ia juga mengetahui peran-peran yang dijalankan oleh pemain lain, wasit, penjaga garis dan sebagainya.
c.       Generalized others, seseorang telah mampu mengambil peran-peran yang  dijalankan orang lain dalam masyarakat. Ia telah mampu berinteraksi dengan orang lain dalam masyarakat karena telah memahami peranannya sendiri serta peran orang lain dengan siapa ia berinteraksi.

2.      Agen Sosialisasi
Agen sosialisasi dianggap sebagai pihak-pihak yang melaksanakan sosialisasi. Fuller dan Jacobs, mengidentifikasikan empat agen utama sosialisasi utama:
a.       Keluarga.
b.      Teman Bermain.
c.       Sekolah.
d.      Media Massa.

3.      Bentuk Dan Pola Sosialisasi
Para ahli membedakan proses sosialisasi yang berlangsung kedalam dua kelompok, yaitu sosialisasi primer (primary socialization) dan sosialisasi sekunder (secondary socialization). Sosialisasi primer biasanya terjadi di lingkungan keluarga, disini individu tidak mempunyai hak untuk dapat memilih agen sosialisasi. Orang tua secara konstan mengkonsumsikan nilai-nilai, perasaan dan tujuan mereka kepada anak-anak meskipun mereka tidak bermaksud seperti itu. Sosialisasi sekunder biasanya berjalan dalam berbagai bentuk yang satu sama lain saling berkaitan. Salah satu bentuk sosialisasi sekunder yang sering dijumpai dalam masyarakat ialah apa yang dinamakan proses resosialisasi (resosialization) yang didahului oleh proses desosialisasi (desocialization).
            Pola sosialisasi mengacu pada cara-cara yang dipakai dalam melakukan sosialisasi. Menurut Gertrude Jaeger, pola sosialisasi terdiri dari sosialisasi represif dan sosialisasi partisipatoris.
            Sosialisasi represif (repressive socialization) menekankan pada penggunaan hukuman terhadap kesalahan. Sosialisasi partisipatoris (participatory socialization) merupakan pola sosialisasi yang didalamnya anak diberi imbalan manakala berperilaku baik; hukuman dan imbalan bersifat simbolik; anak diberi kekebasan; penekanan terletak pada interaksi; komunikasi bersifat lisan; anak menjadi pusat sosialisasi; keperluan anak dianggap penting; dan keluarga menjadi generalized other.
C.     Penutup
1.        Rangkungan
Sosialisasi merupakan proses belajar individu untuk mengenal dan menghayati normanorma dan nilai-nilai sosial, guna membentuk sikap untuk berperilaku sesuai dengan tuntutan masyarakatnya. Cooley berpendapat bahwa looking-glass self terbentuk melalui tiga tahap. Pada tahap pertama, seseorang mampu mempunyai persepsi mengenai pandangan orang lain terhadapnya; tahap kedua, seseorang mempunyai persepsi mengenai penilaian orang lain terhadap penampilannya; dan tahap ketiga, seseorang mempunyai perasaan terhadap apa yang dirasakannya sebagai penilaian orang lain terhadapnya.

2.    Latihan/Tugas
1.      Mengapa seorang anak harus mengalami proses sosialisasi dalam kehidupannya, dan bagaimana jika sosialisasi tersebut tidak terjadi?.
2.      Mengapa keluarga dikatakan sebagai agen sosialisasi yang paling penting, jelaskan!

3.  Tes Formatif
1.      Berikut ini adalah makna sosialisasi, kecuali …..
A.    Individu mempelajari norma, nilai dan peran dalam masyarakat
B.     Menjadikan suatu organism menjadi makhluk sosial
C.     Menjamin kelangsungan hidup masyarakat
D.    Interaksi yang terjadi antara dua orang atau lebih
2.      Gambaran tentang diri seorang individu yang diperoleh melalui tanggapan orang lain, berkaitan dengan konsep ….
A.    Significant others                                   C. role taking
B.     Looking- glass self                                 D. impression management
3.      Proses belajar di mana  individu mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran dan sikapnya dengan adat, system norma dan peraturan yang berlaku dalam kebudayaan masyarakatnya, dinamakan ….      
A.    Asimilasi                                                C. Enkulturasi
B.     Akulturasi                                              D. Sosialisasi
4.      Kelompok bermain dikenal dengan istilah …..
A.    Discussion group                                    C. geng
B.     Peer group                                              D. party group
5.      Proses sosialisasi yang memperkenalkan individu ke dalam sector baru dari dunia objektif masyarakatnya, disebut sosialisasi …..
A.    Primer                                                     C. massa
B.     Sekunder                                                D. public

4.      Penyelesaian Tugas Formatif
1.       D              2. B                 3. C                 4. B                 5. B                                        









BAB V
KONFORMITAS DAN PENYIMPANGAN
A.PENDAHULUAN
1. Standar Kompetensi
Setelah mempelajari pokok bahasan ini peserta PLPG dapat menganalisis konformitas dan perilaku menyimpang yang terjadi dalam masyarakat.
2.    Kompetensi Dasar
Setelah mempelajari pokok bahasan ini peserta PLPG dapat menganalisa factor-faktor terjadinya konformitas dan perilaku menyimpang serta cara mengatasinya.
B.Penyajian Materi
1. Konsep Konformitas dan Penyimpangan
            Menurut Jon M.Shepard, konformitas merupakan bentuk interaksi yang didalamnya seseorang berperilaku terhadap orang lain sesuai dengan harapan kelompok. Sedangkan perilaku menyimpang adalah perilaku warga masyaralkat yang tidak sesuai dengan kebiasaan, tata aturan atau norma social yang berlaku.        
Pada tahun 60-an sejumlah besar pemuda-pemudi Amerika meninggalkan rumah orang tua mereka dan selanjutnya hidup mengembara atau hidup bersama tanpa nikah di pemukiman tertentu dengan gaya hidup yang berbeda dengan gaya hidup keluarga Amerika pada umumnya. Para muda-mudi tersebut dikenal dengan nama “hippies” salah satu cirri kaum prianya adalah membiarkan rambut mereka tumbuh sampai panjang. Gaya rambut panjang yang kemudian banyak ditiru oleh para permuda dan mahasiswa Amerika lainnya sering dianggap sebagai penyimpangan. Pada masa revolusi di negara kita, pada pemuda yang berjuang melawan Belanda banyak yang berambut panjang, dan oleh warga masyarakat hal ini tidak dicela melainkan dipuji.
 2. Teori-Teori Penyimpangan.
            Secara umum ada dua tipe penjelasan dalam perspektif sosiologis tentang penyimpangan, yaitu structural dan procedural. Kedua perspektif di atas dalam penerapannya kadang kala tidak dapat dibedakan secara tegas karena keduanya memiliki penjelasan yang komprehensif dan saling tumpang tindih.
Teori Anomi
            Teori anomi berasumsi bahwa penyimpangan adalah akibat dari adanya berbagai ketegangan dalam struktur sosial sehingga ada individu yang mengalami tekanan dan akhirnya menjadi menyimpang. Pandangan tersebut dikemukakan oleh Robert K.Merton dan digunakan oleh Emile Durkheim dalam analisanya tentang suicide unomique.
Teori belajar atau teori sosialisasi
            Teori ini menyebutkan bahwa penyimpangan perilaku adalah hasil dari proses belajar. Teori ini oleh Edwin H.Sutherland diberi nama asosiasi diferensiasi. Menurut Sutherland, penyimpangan adalah konsekuensi dari kemahiran dan penguasaan atas sikap atau tindakan yang dipelajari dari norma-norma yang menyimpang, terutama dari subkultur misalnya teman sebaya yang menyimpang.
Teori Labeling (Teori pemberian cap)
            Teori labeling menjelaskan penyimpangan terutama ketika perilaku itu sudah sampai pada tahap penyimpangan sekunder. Analisis tentang pemberian cap dipusatkan pada reaksi orang lain. Ada orang yang memberi definisi, julukan atau member label pada individu atau tindakan yang menurut penilaian orang tersebut adalah negatif. Contohnya: ada seseorang yang berperilaku sebagai homoseksual demi uang, padahal tindakan itu ia lakukan dengan terpaksa, .namun oleh karena masyarakat telah terlanjur memberinya cap, akibatnya ia menjadi homoseksual yang sesungguhnya.
Teori Kontrol
            Ide utama dari teori kontrol adalah bahwa penyimpangan merupakan hasil dari kekosongan control atau pengendalian social. Teori ini dibangun atas dasar pandangan bahwa setiap manusia cenderung untuk tidak patuh pada hukum atau memiliki dorongan untuk melakukan pelanggaran hukum. Oleh sebab itu, para ahli teori kontrol menilai perilaku menyimpang adalah konsekuensi logis dari kegagalan seseorang untuk mentaati hukum.
Teori Konflik
            Teori konflik lebih menitik beratkan analisisnya pada asal usul terciptanya aturan atau tertib sosial. Teori ini tidak bertujuan untuk menganalisis asal usul terjadinya pelanggaran peraturan atau latar belakang seseorang berperilaku menyimpang. Perspektif konflik lebih menekankan sifat pluralistic dari masyarakat dan ketidakseimbangan distribusi kekuasaan yang terjadi diantara berbagai kelompoknya.
3.    .Faktor-Faktor Penyebab Perilaku Menyimpang
            Beberapa factor penyebab terjadinya perilaku menyimpang antara lain adalah sebagai berikut:
a.       Sikap mental yang tidak sehat
b.      Ketidakharmonisan dalam keluarga
c.       Pelampiasan rasa kecewa
d.      Dorongan kebutuhan ekonomi
e.       Pengaruh lingkungan dan media massa
f.       Keinginan untuk dipuji
g.      Proses belajar yang menyimpang
h.      Ketidaksanggupan menyerap norma
i.        Adanya ikatan sosial yang berlainan
j.        Proses sosialisasi nilai-nilai subkebudayaan menyimpang
k.      Kegagalan dalam proses sosialisasi.
C. Penutup
1. Rangkuman
Perilaku menyimpang adalah perilaku warga masyaralkat yang tidak sesuai dengan kebiasaan, tata aturan atau norma social yang berlaku. Beberapa teori perilaku menyimpang, antara lain: Teori Anomi, Teori belajar atau teori sosialisasi, Teori Labeling (Teori pemberian cap), Teori Kontrol, Teori Konflik.
2. Latihan / Tugas
1. Apa saja bentulk prilaku menyimpang yang banyak dilakukan oleh para remaja Jelaskan alasannya.
    2. Jelaskan pokok pikiran dari beberapa teori penyimpangan.
3. Tes Formatif
   1. Salah satu contoh p[enyimpangan yang disebabkan sikap mental yang tidak sehat adalah …….
       A. Malas              B. Korupsi                  C. Berjudi               D. Bolos
   2. Penyimpangan terjadi karena adanya ketegangan dalam struktur social, hal ini merupakan pandangan dari ……
       A. Teori Anomi      B. Teori Konflik      C. Teori Labeling     D. Teori Sosialisasi
   3. Imbalan yang diberikan terhadap para pelaku penyimpangan yang bertujuan member efek jera kepada para pelaku dinamakan …..
       A. Reward           B. Sanksi                     C. Penderitaan                        D.Hukuman
   4. Kegiatan kebut-kebutan dijalan raya, sehingga banyaknya pelanggaran atuiran lalu lintas yang dilakukan para remaja termasuk tindakan….
       A. Conformity     B.Kriminalitas             C. Non Conform         D.Kebrutalan
   5. Penyimpangan adalah hasil dari proses belajar, pendapat ini dikemukakan oleh …..
       A. Merton                        B.Durkheim                C. Weber                     D. Sutherland     

4.     PENYELESAIAN TUGAS TES FORMATIF
1.      B           2. A                 3. B                 4. C                 5. D


BAB VI
PENGENDALIAN SOSIAL
A.     Pendahuluan
1.      Standar Kompetensi
Setelah mempelajari pokok bahasan ini peserta PLPG dapat mengidentifikasi pengendalian social atau control social dalam berperilaku
2.      Kompetensi Dasar
Setelah mempelajari pokok bahasan ini peserta PLPG dapat menganalisa berbagai mekanisme pengendalian social terhadap individu agar tercipta keteraturan social dalam kehidupan masyarakat.

B.     Penyajian Materi

1.        Pengerian Pengendalian Sosial
Menurut Peter L.Berger, pengendalian social merupakan cara yang digunakan warga masyarakat untuk menertibkan anggota yang membangkang. Sedangkan Joseph S.Roucek menyatakan, bahwa pengendalian social merupakan proses direrencanakan  atau tidak yang bersifat mendidik, mengajak bahkan memaksa warga-warga masyarakat agar mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku.  Bruce J.Cohen mengemukakan, pengendalian social sebagai cara-cara yang digunakan untuk mendorong seseorang agar berperilaku selaras dengan kehendak kelompok atau masyarakat luas tertentu. Menurut Astrid Susanto, pengendalian social adalah control yang bersifat psikologis dan fisik, yaitu karena merupakan tekanan mental terhadap individu sehingga individu akan bersikap dan bertindak sesuai dengan penilaian kelompok.
Ada beberapa factor yang menyebabkan anggota masyarakat berperilaku menyimpang, antara lain:
a.       Kaidah-kaidah social yang ada tidak memuaskan bagi pihak tertentu atau karena tidak memenuhi kebutuhan dasarnya.
b.      Kaidah social yang ada kurang jelas perumusannya sehingga menimbulkan aneka penafsiran dan penetapan.
c.       Di dalam masyarakat terjadi konflik antara peranan yang dipegang warga masyarakat.
d.      Tidak mungkin untuk mengatur semua kepentingan warga masyarakat secara merata.

2.    Sifat Pengendalian Sosial

a.       Pengendalian social preventif, adalah segala bentuk pengendalian social yang berupa pencegahan atas perilaku menyimpang (deviation) agar dalam kehidupan social tetap kondusif (konformis). Misalnya, polisi lalu lintas senantiasa berjaga-jaga di perempatan jalan sebagai langkah terhadap kemungkinan terjadi pelanggaran lalu lintas
b.      Pengendalian social represif, adalah bentuk pengendalian social yang bertujuan untuk mengembalikan kekacauan social atau mengembalikan situasi deviasi menjadi keadaan komdusif kembali (konformis). Misalnya Seorang guru member sanksi kepada muridnya yang bolos belajar.

3.    Fungsi Pengendalian Sosial
            Pengendalian sosial yang dilakukan terhadap anggota masyarakat memiliki beberapa fungsi antara lain:
a.       Mempertebal keyakinan anggota-anggota masyarakat akan kebaikan norma-norma kemasyarakatan
b.      Memberikan penghargaan kepada anggota masyarakat yang taat pada norma-norma kemasyarakatan
c.       Mengembangkan rasa malu dalam diri atau jiwa anggota masyarakat jika mereka menyimpang dari nilai dan norma yang berlaku
d.      Menimbulkan rasa takut (shock teraphy) didalam diri seseorang atau sekelompok orang terhadap resiko dan ancaman.
e.       Menciptakan system hukum.

4.    Jenis-Jenis Lembaga Pengendalian Sosial         
          Lembaga pengendalian social secara garis besar dibedakan menjadi dua macam, yaitu lembaga pengendalian social resmi (formal) dan lembaga pengendalian social yang tidak resmi (informal). Beberapa jenis lembaga pengendalian social antara lain:
Lembaga pengendalian sosial formal: a) Lembaga kepolisian, b) Lembaga pengadilan, c) Lembaga Pendidikan
Lembaga pengendalian  social informal: a) Lembaga adat, b) Lembaga keagamaan c) Tokoh masyarakat, d) Organisasi social masyarakat, e) Lembaga penyiaran (pers).
Lembaga-lembaga social yang ada tidak selamanya dapat berfungsi dengan baik, disebabkan beberapa hal:
a.       Tidak adanya kepastian hukum
b.      Kepentingan masyarakat sulit terpenuhi
c.       Sering terjadinya konflik
d.      Muncul komersialisasi hukum,  jabatan, kekuasaan
e.       Muncul sindikat-sindikat kejahatan.

            Adapun beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk memulihkan ketertiban dalam masyarakat, antara lain: 1) Melakukan pemulihan keamanan , 2) Revitalisasi aparat , 3) Yudicial review (revisi aturan), 4) Penyuluhan Hukum, 5) Pencanangan gerakan disiplin nasional, 6)  Meningkatkan peran serta warga masyarakat dalam pengawasan sosial.


C. Penutup
1. Rangkuman
Joseph S.Roucek menyatakan, bahwa pengendalian social merupakan proses direrencanakan  atau tidak yang bersifat mendidik, mengajak bahkan memaksa warga-warga masyarakat agar mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku.
2.    Latihan/Tugas
1.      Jelaskan mengapa perlu dilakukan pengendalian social dalam masyarakat ?
2.      Sebutkan jenis-jenis pengendalian sosial yang dapat digunakan dan lembaga apa saja yang berfungsi melakukan pengendalian social ?
3. Tes Formatif
      1. Social control adalah…….
   A. Pengekangan diri dari pelanggaran hukum
   B. Rangkaian harapan-harapan yang dipelajari melalui sosialisasi
C.  Cara-cara yang digunakan oleh para anggota kelompok agar mereka tetap saling berperilaku yang selaras dengan yang diharapkan
D.  B dan C benar

2.Social control sesungguhnya merupakan kelanjutan dari……

A.  Industrialisasi                                    C. Proses sosialisasi
B.  Urbanisasi                                         D. Perubahan social

3.    Memberikan penghargaan kepada anggota masyarakat yang taat pada norma-norma kemasyarakatan merupakan ……
A.  Tujuan Pengendalian social              C. Fungsi pengendalian sosial
B.  Pengertian pengendalian social         D. Sifat pengendalian social

4.    Salah satu upaya untuk memulihkan ketertiban dalam masyarakat akibat  tidak berfungsinya lembaga pengendalian social, kecuali …..
A.  Melakukan pemulihan keamanan      C. Yudicial review
B.   Revitalisasi aparat                            D. Membasmi kejahatan

5.    Berikut ini adalah lembaga pengendalian sosial yang bersifat informal,       kecuali
A.  Tokoh adat                                        C. Alim Ulama
B.  LSM                                                  D. Pendidikan

4.    Penyelesaian Tugas Tes Formatif
1.         C                          2. B                 3. C                 4. D                 5. D






BAB VII
STRATIFIKASI SOSIAL DAN MOBILITAS SOSIAL
A.     Pendahuluan
1.      Standar Kompetensi
Setelah mempelajari pokok bahasan ini peserta PLPG diharapkan dapat memahami struktur sosial serta berbagai factor penyebab konflik dan mobilitas sosial.
2.      Kompetensi Dasar
Setelah mempelajari pokok bahasan ini peserta PLPG diharapkan dapat mendeskripsikan bentuk-bentuk struktur sosial dalam fenomena kehidupan
                                                          
B. Penyajian Materi              
1. Stratifikasi Sosial
Menurut Hunt (1993), Stratifikasi sosial berarti system perbedaan status yang berlaku dalam suatu masyarakat. Sedangkan Pitirim Sorokin (Soekanto, 1986) mengemukakan bahwa “Social stratification is permanent sharacteristic of any organized social group”—Stratifikasi sosial merupakan cirri yang tetap pada setiap kelompok sosial yang teratur. Lebih lanjut dikatakan bahwa stratifikasi sosial merupakan perbedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkah (hierarkis)
Adapun dasar yang dijadikan ukuran dalam menggolongkan anggota masyarakat kedalam suatu pelapisan sosial adalah sebagai berikut:
a.       Ukuran kekayaan
b.      Ukuran kekuasaan
c.       Ukuran kehormatan
d.      Ukuran ilmu pengetahuan

2.    Mobilitas Sosial
Gerak sosial vertikal dimaksudkan sebagai perpindahan individu atau objek sosial dari suatu kedudukan sosial ke kedudukan sosial lainnya yang tidak sederajat. Sesuai dengan arahnya, maka terdapat dua jenis gerak sosial yang vertical, yaitu:
a.       Gerak sosial yang meningkat (social-climbing), yaitu gerak perpindahan anggota masyarakat dari kelas sosial rendah ke kelas sosial yang lebih tinggi. Misalnya, seorang staf yang dipromosikan naik pangkat menjadi kepala bagian di sebuah perusahaan swasta.
b.      Gerak sosial yang menurun (social-sinking), yaitu gerak perpindahan anggota masyarakat dari kelas sosial tertentu ke kelas sosial lain yang lebih rendah posisinya. Misalnya, seorang petani cengkeh yang jatuh miskin karena komuditas yang ditanamnya tidak laku-laku dijual di pasaran.
Pitirim A.Sorokin (dalam Suyanto,2006), menyebutkan bahwa mobilitas sosial vertikal dapat dilakukan lewat beberapa saluran terpenting, antara lain sebagai berikut:
a.       Angkatan Bersenjata. Dalam keadaan perang dimana setiap negara menghendaki kemenangan, maka jasa seorang prajurit tanpa melihat statusnya akan dihargai dalam masyarakat. Karena jasanya menjatuhkan banyak korban, maka dimungkinkan dapat menanjak kedudukannya dan bahkan dapat memperoleh kekuasaan dan wewenang.
b.      Lembaga-lembaga pendidikan. Pada umumnya lembaga pendidikan dinilai merupakan saluran yang konkrit dari mobilitas sosial vertikal, bahkan lembaga pendidikan formal dianggap sebagai social elevator yang bergerak dari kedudukan yang paling rendah ke kedudukan paling tinggi.
c.       Lembaga-lembaga keagamaan. Lembaga ini juga merupakan salah satu saluran mobilitas sosial vertikal. Walaupun setiap agama menganggap bahwa setiap orang mempunyai kedudukan yang sederajat, akan tetapi pemuka-pemuka agama selalu berusaha keras untuk menaikkan mereka yang berkedudukan rendah ke kedudukan yang tinggi.
d.      Organisasi politik. Saluran ini dalam banyak kasus terbukti memberi kesempatan yang cukup besar bagi setiap anggotanya untuk naik dalam tangga kedudukan dalam masyarakat. Bagi mereka yang pandai berorganisasi dalam organisasi politik, mendapat kesempatan untuk dipilih sebagai anggota DPR sebagai wakil dari organisasi politik yang mengorbitkannya.
e.       Organisasi ekonomi. Organisasi ini, baik yang bergerak dalam bidang perusahaan, maupun jasa umumnya memberikan kesempatan seluas luasnya bagi seseorang untuk mencapai mobilitas sosial vertical, karena dalam organisasi ini sifatnya relatif terbuka.
Sehubungan dengan pentingnya gerak sosial vertikal  sebagai landasan pembangunan suatu masyarakat, maka terdapat beberapa prinsip umum dalam gerakan sosial vertikal, adalah sebagai berikut:
a.       Hampir tidak ada masyarakat yang sifat system berlapis-lapirnya secara mutlak tertutup
b.      Betapapun terbukanya system berlapis-lapis dalam suatu masyarakat tak mungkin gerak sosial yang vertical dilakukan dengan sebebas-bebasnya.
c.       Gerak sosial vertikal yang umumnya berlaku bagi semua masyarakat tak ada, setiap masyarakat mempunyai cirri-cirinya yang khas bagi gerak sosialnya yang vertikal.
d.      Laju gerak sosial vertikal yang disebabkan oleh factor-faktor ekonomi, politik serta pekerjaan adalah berbeda.
e.       Berdasarkan bahan-bahan sejarah, khususnya dalam gerak sosial vertikal yang disebabkan factor-faktor ekonomi, politik dan pekerjaan, tak ada kecenderungan yang kontinu perihal bertambah atau berkurangnya laju gerak sosial. Hal ini berlaku bagi suatu negara, lembaga sosial yang besar dan juga bagi sejarah manusia.

                                               
C.     Penutup
1.        Latihan/Tugas
a.       Pada system pelapisan sosial yang bagaimanakah dimungkinkannya terjadinya mobilitas sosial, jelaskan mengapa demikian?
b.      Mengapa mobilitas sosial dapat menimbulkan keterasingan dalam masyarakat, jelaskan dengan contoh.

2.        Tes Formatif
1.      Seorang anak petani menjadi dokter, perubahan tersebut memperlihatkan telah terjadi mobilitas sosial …..
A.    Horizontal                                                 C. Intra generasi
B.     Vertikal                                                     D. Antar generasi
2.      Saluran untuk mencapai mobilitas sosial vertikal pada saat revolusi fisik yang paling handal adalah ……
A.    Lembaga pendidikan                                C. Angkatan Bersenjata
B.     Lembaga politik                                        D. Organisasi Ekonomi
3.      Seseorang yang tinggal di desa, kemudian untuk kelangsungan hidupnya memilih untuk pindah ke kota, berarti orang tersebut mengalami mobilitas ……
A.     horizontal                                                 C. Vertikal naik
B.     Vertikal turun                                            D. antar generasi
4.      Faktor-faktor yang menghalangi terjadinya mobilitas sosial yang berhubungan dengan aspek ekonomi adalah …..
A.    Diskriminasi kelas                                     C. perbedaan jenis kelamin
B.     Perbedaan ras dan agama                          D. kemiskinan
5.      Unsur yang mengalami perubahan dalam mobilitas sosial adalah ….
A.    Lingkungan budaya                                  C. gaya hidup
B.     Lingkungan sosial                                     D. posisi atau strata sosial

3.      Penyelesaian Tugas Formatif
1.      C                    2. C                 3. A                 4.D                  5. D                                                    




BAB VIII
Text Box: A. Pendahuluan

1. Kompetensi Dasar
Setelah mempelajari pokok bahasan ini diharapkan peserta dapat memahami konsep lembaga sosial, pertumbuhan lembaga sosial dan keanekaragamannya dalam kehidupan sosial.

2. Kompetensi Khusus
Setelah mempelajari pokok bahasan ini diharapkan peserta dapat:
q Menjelaskan konsep dan pengertian lembaga sosial.
q Menguraikan pertumbuhan lembaga sosial 
q Menguraikan perbedaan pranata dengan asosiasi
q Memahami dan menjelaskan keanekaragaman fungsi lembaga sosial LEMBAGA SOSIAL

B. Penyajian Materi
1.  Pengertian Lembaga Sosial dan Asosiasi

      Lembaga Sosial adalah keseluruhan dari sistem norma yang terbentuk berdasarkan tujuan dan fungsi tertentu dalam masyarakat.  Lembaga Sosial berbeda dengan asosiasi. lembaga sosial bukanlah kumpulan orang-orang atau bangunan besar, melainkan kumpulan norma. Wujud konkret lembaga kemasyarakatan adalah association (asosiasi). Contoh: Universitas sebagai lembaga kemasyarakatan sedangkan Universitas Riau, Universitas Lancang Kuning, Universitas Airlangga, dan lain-lain merupakan contoh asosiasi
Sementara itu, realisasi dari norma yang dianut dalam lembaga sosial tersebut terjadi dengan adanya asosiasi.  Lembaga Sosial disebut juga Pranata Sosial. Ada tiga komponen pokok lembaga Sosial, antara lain:
1. Pedoman sikap
2. Simbol budaya
3. Ideologi

2. Keanekaragaman dan Bentuk Lembaga Sosial

Tipe-tipe Lembaga Sosial adalah sebagai berikut:
        1. Berdasarkan perkembangannya dalam masyarakat terdiri dari :
a)        Crescive Institution : Tidak sengaja tumbuh dalam masyarakat melainkan karena adat istiadat masyarakat tertentu. contohnya lembaga perkawinan.
b)        Enacted Institution : Sengaja dibentuk dalam masyarakat. contohnya lembaga pendidikan.
2.      Berdasarkan kepentingannya dalam masyarakat terdiri dari :
a. Basic Institution : lembaga sosial yang penting keberadaannya dalam masyarakat. contohnya lembaga pendidikan dan lembaga keluarga.
b. Subsidiary Institution : lembaga sosial yang tidak terlalu penting. Contohnya rekreasi.

     3. Berdasarkan penerimannya dalam masyarakat terdiri dari :
a. Approved/ Sanctioned Institution : diterima masyarakat. contohnya lembaga pendidikan.
b. Unsanctioned Institution : tidak diterima masyarakat. contohnya pelacuran.
     4.  Berdasarkan popularitasnya terdiri dari :
           a. General Institution : dikenal dunia secara luas. contohnya lembaga agama.
           b. Restricted Institution : dikenal hanya oleh kalangan tertentu saja. contohnya    
              lembaga agama Islam, Kristen, Hindu dan lain-lain.
    5.  Berdasarkan tujuannya terdiri dari :
a. Operative Institution : didirikan untuk tujuan tertentu. contohnya lembaga
            industri.
b. Regulative Institution : didirikan untuk mengawasi masyarakat. contohnya
         lembaga hukum dan kejaksaan.
Selanjutnya lembaga Sosial memiliki dua fungsi, yakni:
         a. Fungsi Manifest : fungsi yang diharapkan dari lembaga sosial tersebut.
b. Fungsi Laten : fungsi yang tidak diharapkan dari lembaga sosial tersebut, namun terjadi.

3. Tujuan, Fungsi dan Alat kelembagaan Sosial.
Lembaga sosial mempunyai satu atau beberapa tujuan tertentu. Mungkin tujuan-tujuan tersebut tidak sesuai dengan fungsi lembaga yang bersangkutan, apabila dipandang dari sudut kebudayaan secara keseluruhan.
Pembedaan antara tujuan dan fungsi sangat penting oleh karena tujuan suatu lembaga adalah tujuan pula bagi golongan masyarakat tertentu dan golongan masyarakat bersangkutan pasti akan berpegang teguh padanya. Sebaliknya, fungsi sosial lembaga tersebut, yaitu peranan lembaga tadi dalam sistem sosial dan kebudayaan masyarakat, mungkin tidak diketahui atau disadari golongan masyarakat tersebut.
Mungkin fungsi tersebut baru disadari setelah diwujudkan dan ternyata berbeda dengan tujuannya. Umpamanya lembaga perbudakan ternyata bertujuan untuk mendapatkan tenaga buruh yang semurah-murahnya, tetapi dalam pelaksanaannya ternyata sangat mahal.
Lembaga sosial mempunyai alat dan kelengkapan yang digunakan untuk mencapau tujuan lembaga bersangkutan, seperti; bangunan, peralatan, mesin dan lain sebagainya. Bentuk serta penggunaan alat-alat tersebut biasanya berlainan antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain.
Lambang-lambang biasanya juga merupakan ciri khas dari lembaga sosial, lambang tersebut secara simbolik menggambarkan tujuan dan fungsi lembaga yang bersangkutan. Lambang tersebut bisa berwujud tulisan, slogan maupun gambar-gambar yang bermakna.
Suatu lembaga sosial mempunyai tradisi tertulis maupun tidak tertulis, yang merumuskan tujuan, tata tertib yang berlaku dan lain-lain tentang ketentuan lembaga tersebut. Tradisi tersebut merupakan dasar bagi lembaga itu untuk melaksanakan pekerjaannya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Dengan demikian bila semua kriteria di atas terlaksana dan lengkap dalam suatu bentuk kelembagaan sosial, maka dapat dipastikan bahwa lembaga tersebut akan berkembang dalam memenuhi kebutuhan masyarakat di mana lembaga tersebut berada.  

C. Penutup
1. Rangkuman.

Lembaga Sosial adalah keseluruhan dari sistem norma yang terbentuk berdasarkan tujuan dan fungsi tertentu dalam masyarakat.  Lembaga Sosial berbeda dengan asosiasi. lembaga sosial bukanlah kumpulan orang-orang atau bangunan besar, melainkan kumpulan norma. Wujud konkret lembaga kemasyarakatan adalah association (asosiasi).  Bentuk lembaga sosial didasarkan dari perkembangannya dalam masyarakat, kepentingannya, penerimaannya, popularitasnya, dan tujuannya.

2.  Latihan
  1. Apa yang dimaksud dengan lembaga sosial  ?
  2. Sebutkanlah bentuk lembaga sosial ?

3. Tugas
  1. Coba saudara amati di sekitar lingkungan saudara, sebutukanlah lembaga-lembaga  sosial yang ada, dan jelaskan fungsi dan tujuan lembaga sosial  tersebut ?
  2. Coba saudara amati alat kelengkapan lembaga sosial yang ada di sekitar sdr. Komentari dan jelaskan apa fungsi dan maknanya !

4. Test Formatif.

1.        Berikut ini adalah contoh asosiasi :
A.    Universitas Riau.                   C. Keluarga
B.     Pasar                                      D. Teman Sebaya

2.        Salah satu komponen lembaga sosial adalah :
A.    Dana                                      C. SDM
B.     Ideologi                                 D. SDA

3.        Lembaga sosial yang tidak sengaja tumbuh dalam masyarakat melainkan karena adat istiadat masyarakat tertentu disebut :
A.    Deskriptive                            C. Crescive
B.     Intuitif                                               D. Manipulatif

4.        Salah satu bentuk lembaga sosial yang sangat dikenal luas adalah :
A.    Lembaga dasar                       C. Lembaga Agama
B.     Lembaga Utama                    D. Lembaga Sosial

5.        Lembaga yang berfungsi sebagai pemelihara keamanan dan ketertiban, serta melayani dan melindungi masyarakat disebut :
A.    Lembaga Ekonomi                 C. Lembaga Adat
B.     Lembaga Politik                     D. Lembaga Pendidikan
    


       
      Kunci Jawaban:
1.      A
2.      B
3.      C
4.      C
5.      B


BAB IX
MASYARAKAT MAJEMUK
A. Pendahuluan
1.      Standar Kompetensi
Setelah mempelajari pokok bahasan ini anda diharapkan dapat menganalisis kelompok sosial, differensiasi sosial dalam masyarakat multikultural.
2.      Kompetensi Dasar
Setelah mempelajari pokok bahasan ini anda diharapkan dapat menganalisis keanekaragaman kelompok sosial, differensiasi sosial dalam masyarakat multikultural.

B. Penyajian Materi
1. Pengertian kelompok dan Differensiasi Sosial
Differensiasi sosial adalah bentuk pembedaan antar kelompok yang didasarkan atas perbedaan secara horizontal tanpa hierarki, sebagai contoh adalah perbedaan jenis kelamin, agama, suku, ideologi dan lain sebagainya. Differensiasi dibedakan dalam bentuk :
a)      Rank differentiation, yaitu ketimpangan distribusi barang yang dibutuhkan masyarakat. Maka hanya mereka yang memiliki penghasilan yang tinggi saja yang mampu memilikinya.
b)      Functional differentition, merujuk pada pembagian kerja yang berdasarkan jender, keterampilan, keahlian, pendidikan dan pada status sosial. Pembedaan ini memberikan konsekuensi pada kesejahteraan yang mereka peroleh masing-masing.
c)      Custom differentition, merujuk perbedaan adat dan kemudian mengarah pada kekerabatan, ras, daerah asal, bahasa dan agama. Menurut Geertz ras merupakan salah satu faktor penyebab kemajemukan yang terjadi

2. Penyebab Kemajemukan dan Kerawanan Konflik di Indonesia
Keadaan geografis dan kesukuan (terdapat 13.000 pulau dengan berbagai suku yg memiliki berbagai corak budaya dan bahasanya. Persentuhan dengan budaya asing. Abad ke 4 masuknya Hindu dan Budha. Hingga saat ini pengaruh Hindu dan Budha masih tertanam di Jawa dan Bali. Abad 15 masuknya pengaruh Islam terutama pada daerah-daerah yg kurang kuat pengaruh Hindu dan Budhanya. Pada daerah-daerah yang kuat pengaruh Hindu dan Budhanya muncul aliran baru yang bersifat sinkretis. Abad 16 masuk budaya Portugis dgn tujuan mencari rempah-rempah sambil menyebarkan agama katolik. Abad 17 Belanda menggeser Portugis dan menyebarkan pula agama protestan. Adanya ketimpangan antara pembangunan yang dilakukan di P. Jawa dan di Luar Pulau Jawa. Adanya ketimpangan pembangunan antara Kawasan Barat Indonesia (KBI) dengan Kawasan Timur Indonesia (KTI). Tidak terjadinya transformasi ekonomi di beberapa daerah sehingga pembangunan ekonomi tidak seimbang antar daerah. Kurangnya keterkaitan pembangunan antar daerah. Misalnya Propinsi A membangun jalan ttp tidak diikuti oleh Propinsi B sehingga terjadi kepincangan akselerasi pembangungan. Masih lemahnya prasarana wilayah di beberapa daerah tertentu.
Adanya kemajemukan tersebut menyebabkan kerawanan konflik di Indonesia menjadi tinggi, penyebabnya antara lain :
1.      Tingginya tingkat segregasi sosial dalam kelompok keagamaan, etnis, budaya dan lain-lain
2.      Terisolasi dalam pulau-pulau kecil sehingga menyebabkan ketimpangan antar wilayah
3.      Rendahnya keterlibatan masyarakat dan akses yang kurang dalam pelibatan mereka dalam penentuan kebijakan pembangunan.
Di sisi lain dalam pendekatan integrasi, kesalahan bangsa Indonesia adalah terlalu menekankan pada integrasi politik, kurang memperhatikan integrasi budaya. Contohnya; kasus Timor Timur (Timor Leste), ketika dilakukan integrasi (1975) Lebih menekankan integrasi politik, itulah sebabnya ketika itu banyak Suku Sunda di jajaran milter, suku Batak di jajaran Pemda di daerah Timor Timur ketika itu. Pendekatan ini kurang memperhatikan entitas budaya, sehingga masyarakat Timtim merasa  datangnya berbagai sukubangsa baru itu dianggap penjajah. Semestinya ketika  itu pemerintah seharusnya lebih mendatangkan suku Timor, Flores dan sebagainya yang memiliki kemiripan budaya.  
Kenapa hal itu terjadi ?, karena faktor integrasi kebudayaan belum atau tidak dianggap sebagai perangkat yang handal untuk mewujudkan kebijakan nasional. Faktor kebudayaan masih dianggap yang ekslusif, disinteraktif, teritorial, dan statis sehingga dianggap tidak penting untuk merespon persoalan yang terjadi. Dampak dari kemajemukan yang ada tersebut yang terjadi adalah:
1.      Masyarakat kurang memiliki loyalitas komunal yang lebih luas dan tidak adanya konsensus bersama yang dimaknai dan berjalan bersama
2.      Kurang memiliki homogenitas dalam konsep-konsep kebudayaan.
3.      Masyarakat tidak saling memahami keinginan-keinginan pihak lain karena kurangnya loyalitas dan sangat beragamnya budaya yang ada.

C. Penutup
1. Rangkuman
Kelompok sosial sebagai kumpulan manusia yang memiliki kesadaran akan anggotanya dan saling berinteraksi. Selanjutnya differensiasi sosial adalah bentuk pembedaan antar kelompok yang didasarkan atas perbedaan secara horizontal tanpa hierarki, sebagai contoh adalah perbedaan jenis kelamin, agama, suku, ideologi dan lain sebagainya.
Dari kondisi ini menyebabkan terjadinya masyarakat majemuk dalam bangsa Indonesia. Adanya kemajemukan tersebut menyebabkan kerawanan konflik di Indonesia menjadi tinggi.

2. LATIHAN/TUGAS
1.      Apa yang dimaksud dengan differensiasi sosial ?
2.      Mengapa terjadi kemajemukan dalam masyarakat Indonesia ?
3.      Mengapa di Indonesia terjadi kerawanan konflik sosial ?


3. TES FORMATIF
1.      Berikut ini adalah kelompok sosial yang anggotanya mempunyai ikatan primordial yang tinggi, adalah …..
A.    Sekolah umum                                         C. Bonek surabaya
B.     Organisasi motor gede                             D. Partai politik

2.       Ketimpangan distribusi barang yang dibutuhkan masyarakat. Maka hanya mereka yang memiliki penghasilan yg tinggi saja yang mampu memilikinya. Disebut dengan :
A.    Differensiasi Sosial                                  C. Rank Differensiasi
B.     Custom Differensiasi                               D. Differensiasi

3.      Adanya perbedaan adat dan kemudian mengarah pada kekerabatan, ras, daerah asal, bahasa dan agama. Disebut dengan :
A.    Differensiasi Sosial                                  C. Rank Differensiasi
B.     Custom Differensiasi                               D. Differensiasi

4.      Tingginya tingkat segregasi sosial dalam kelompok keagamaan, etnis, budaya menyebabkan Indonesia :
A.    Rawan konflik                                        C. Ramai
B.     Majemuk                                                  D. Differensiasi sosial

5.       Masyarakat yang kurang memiliki loyalitas komunal yang lebih luas dan tidak adanya konsensus bersama yang dimaknai dan berjalan bersama adalah dampak dari :
A.    Rawan konflik                                        C. Ramai
B.     Majemuk                                                  D. Differensiasi sosial

A.    PENYELESAIAN TUGAS FORMATIF
1.      C                                      
2.      C
3.      B
4.      A
5.      B

0 comments:

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Sponsor

Sponsor

Sponsor

Copyright © 2012. anaajat online - All Rights Reserved B-Seo Versi 4 by Bamz